Infokasus.id TEMPILANG, BANGKA BARAT – Laut di Desa Benteng Kota seharusnya menjadi ruang kehidupan yang tenang. Namun kenyataannya berbicara lain. Di sini, keserakahan tampak berjalan lebih cepat daripada hukum, dan kekayaan alam yang melimpah justru berubah menjadi sumber penderitaan abadi bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada ombak.
Di kawasan Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk, tepatnya di DU 1545, terdapat kesenjangan yang mencolok antara apa yang tertulis di atas kertas dengan realitas di lapangan. Secara administratif, jumlah ponton yang diizinkan terbatas. Namun di tengah laut, unit-unit penambang itu berjejer rapat, beroperasi siang dan malam dalam jumlah yang jauh melampaui batas izin, membentuk lanskap industri yang mencekam.
DUA WAJAH REALITAS: YANG TERCATAK DAN YANG DISEMBUNYIKAN
Ali (56), seorang nelayan setempat, menjadi saksi bisu perubahan zaman. Dulu ia bisa membaca tanda-tanda laut dengan mudah. Kini, yang ia baca hanyalah kebisingan mesin dan lalu lintas ponton yang tak pernah berhenti.
“Dulu laut itu memberi tanda. Sekarang seperti menyembunyikan sesuatu,” ujarnya getir.
Pertanyaan sederhana namun mematikan terlontar dari mulutnya:
“Kalau yang resmi hanya lima, lalu yang lain itu masuk ke mana?”
Pertanyaan itu mengguncang keseluruhan sistem. Indikasi kuat menunjukkan bahwa produksi yang tercatat secara resmi hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Sisanya diduga mengalir melalui jalur-jalur gelap, menjadi arus sunyi yang tidak tersentuh laporan, namun keuntungannya dinikmati oleh segelintir pihak.
Bagi negara, ini adalah potensi kerugian penerimaan yang luar biasa besar. Bagi masyarakat, ini adalah bentuk ketidakadilan yang nyata.
LUKA NELAYAN: HASIL MENYUSUT, KOMPENSASI TIDAK JELAS
Konsekuensi dari ketidakjelasan ini dirasakan sangat perih oleh para nelayan. Hasil tangkapan semakin menipis, ekosistem rusak, dan janji kompensasi sering kali tidak sebanding dengan kerugian yang diderita.
Skema pembayaran yang bergantung pada data produksi resmi menjadi sebuah lelucon pahit, ketika data tersebut tidak pernah mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di laut.
“Kami diminta percaya pada angka. Tapi angka itu tidak pernah sama dengan apa yang kami lihat setiap hari,” keluh Ali.
Di titik ini, krisis bukan lagi sekadar soal ekonomi atau lingkungan. Ia telah berubah menjadi krisis kepercayaan yang mendalam. Hukum kehilangan giginya, aturan kehilangan maknanya, dan rakyat dipaksa mencari jalan sendiri demi sekeping keberlangsungan hidup.
DI MANA PENGUASAAN DAN PENGAWASAN?
Masyarakat kini mempertanyakan efektivitas kerja pengawasan, termasuk peran Satuan Tugas (Satgas) yang seharusnya menjaga wilayah tambang tersebut.
Bagaimana mungkin aktivitas yang melanggar aturan bisa berjalan masif, terbuka, dan berkelanjutan tanpa ada tindakan tegas? Apakah mata pengawas benar-benar buta, atau memang sengaja ditutup?
“Kami ini hanya nelayan. Tapi kalau kami bisa melihat ada yang tidak beres, seharusnya yang punya kewenangan bisa melihat lebih jelas,” tegas Ali.
Pernyataan itu adalah cambukan keras bagi otoritas yang selama ini terkesan lamban dan jauh dari realitas lapangan.
TUNTUTAN: BERHENTI SEBENTAR, LURUSKAN YANG BENGKOK
Sebagai bentuk perlawanan yang beradab, warga Desa Benteng Kota bersama masyarakat Air Lintang dan Tanjung Niur telah menyuarakan aspirasi resmi. Mereka meminta penghentian sementara operasional untuk dilakukan pendataan ulang dan penertiban yang sesungguhnya.
“Kami tidak menolak tambang. Kami hanya ingin semuanya jelas dan dijalankan dengan benar,” tegas mereka.
Mereka hanya meminta satu hal sederhana: Bahwa laut tidak hanya dipandang sebagai lubang uang, tetapi juga sebagai ruang hidup yang harus dijaga keseimbangannya.
Namun hingga saat ini, di Desa Benteng Kota, lampu merah bahaya terus menyala terang. Ponton terus bekerja, kekayaan terus digali, dan luka nelayan terus terbawa ombak tanpa ada kepastian kapan semua ini akan diperbaiki.
Tragedi terbesar bukanlah bencana yang datang tiba-tiba, melainkan pembiaran yang dibiarkan berlarut-larut, sementara tindakan nyata terus tertinggal jauh di belakang kebenaran.
Publisher : TIM/RED
Penulis : Nyumas Yeni Lestari

0 Komentar