Infokasus.id PANGKALPINANG - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang atau Lapas Tuatunu menggelar terobosan inovatif dengan mengoperasikan fasilitas pengolahan pupuk kompos, yang menjadikan limbah PLTU sebagai bahan baku utama bernilai ekonomi tinggi.
Program pembinaan keterampilan ini tidak hanya memberikan bekal hidup bagi warga binaan, tetapi juga berkontribusi pada pengelolaan lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan pertanian dan perkebunan di Kepulauan Bangka Belitung bahkan daerah luar pulau.
"Kapasitasnya masih sekitar 5 sampai 6 ton dalam dua minggu. Kami baru memulai dan mencoba. Pengiriman pertama sudah kami kirim ke Koba, Bangka Tengah, sebanyak 6 ton, dan insyaallah selanjutnya ke Belinyu sebanyak 6,5 ton," jelas Sugeng Indrawan, Kepala Lapas Kelas IIA Pangkalpinang.
Proses produksi tahap awal dilakukan secara manual oleh dua warga binaan yang telah mendapatkan pelatihan khusus. Meskipun baru dalam tahap pengembangan, produk ini telah menarik minat pasar yang terus meningkat – terutama untuk perkebunan kelapa sawit.
Selain Koba dan Belinyu, permintaan juga datang dari Petaling dan Kotawaringin, yang saat ini menunggu ketersediaan stok. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memberikan dukungan penuh, khususnya dalam pemasaran agar produk dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Dari sisi sosial, program ini menjadi bekal praktis bagi warga binaan untuk membuka usaha setelah kembali ke masyarakat. Secara lingkungan, upaya ini mengurangi beban limbah industri sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat.
Ke depan, Lapas Tuatunu berencana meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah.
Nyimas Yeni Lestari

0 Komentar