SUARA RAKYAT MENGGEMA: AKSI PRA MAY DAY MAKASSAR JADI PANGGUNG GUGATAN TERBUKA ATAS KEBIJAKAN NEGARA

Infokasus.id Makassar Sulawesi Selatan, 24 APRIL 2026 – Langit Kota Makassar bergetar oleh seruan perlawanan. Aksi Pra May Day 2026 yang digelar oleh Koalisi Gerakan Rakyat (KGR) menjelma menjadi panggung politik terbuka yang keras, menuntut pertanggungjawaban atas arah kebijakan yang dinilai semakin memperlebar jurang ketimpangan sosial.
 
Ribuan massa yang terdiri dari elemen buruh, Pedagang Kaki Lima (PKL), mahasiswa, hingga rakyat miskin kota, turun ke jalan menyuarakan amarah dan keresahan yang telah lama terpendam.
 
INTENSITAS TINGGI MESKI TERSEDERET WAKTU
 
Aksi yang semula dijadwalkan pukul 13.00 WITA mengalami keterlambatan teknis dan baru bergerak efektif pukul 15.00 WITA hingga pukul 17.00 WITA. Namun, keterlambatan waktu sama sekali tidak mengurangi bobot tuntutan dan tekanan politik yang dibangun.
 
Rute aksi yang dirancang menyasar titik-titik strategis, mulai dari Kantor Wali Kota, DPRD Kota, Dinas Tenaga Kerja, hingga DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, menjadi bukti bahwa aspirasi ini ditujukan langsung ke pusat-pusat pengambil kebijakan.
 
“JANGAN POSISIKAN KAMI SEBAGAI MASALAH”
 
Koordinator Lapangan, Budi dari PKL Bandang, menegaskan bahwa substansi perjuangan jauh lebih penting daripada sekadar teknis pelaksanaan.
 
“Memang ada kendala sehingga mundur, tapi tujuan kami tetap sama: hentikan kebijakan yang terus menekan rakyat kecil. Kami hanya meminta ruang hidup yang layak. Negara hadir harusnya memberi solusi, bukan terus-menerus menggusur dan memosisikan kami sebagai masalah,” tegas Budi dengan nada penuh penekanan.
 
Suara serupa bergema dari berbagai elemen. Rahman dari kalangan mahasiswa menilai situasi saat ini adalah cerminan nyata kegagalan negara dalam menegakkan keadilan sosial.

“Buruh tidak sejahtera, PKL terancam digusur, rakyat miskin semakin terpinggirkan. Ini bukan sekadar masalah teknis, ini adalah kegagalan sistemik dalam arah kebijakan,” ujarnya.
 
Sementara itu, Emi dari Komite Perjuangan Rakyat Miskin menyoroti ketidakadilan yang semakin terbuka. “Rakyat miskin selalu jadi korban. Digusur tanpa solusi, hidup tanpa kepastian. Ini bukan sekadar ketimpangan, ini kezaliman yang dibiarkan terjadi,” tandasnya.
 
Bung Tono dari KPBI menekankan bahwa tekanan yang semakin keras akan melahirkan perlawanan yang semakin besar. “Selama rakyat kecil terus dipersempit ruang geraknya, maka persatuan dan perlawanan akan terus menguat. Persatuan adalah senjata utama kami,” tegasnya.
 
MAY DAY FEST: KONSOLIDASI DAN ASPIRASI
 
Di sisi lain, Ketua Panitia May Day Fest 2026, Delandy, memastikan agenda puncak peringatan Hari Buruh Internasional siap digelar dengan antusiasme yang luar biasa.
 
“Kami optimis penuh. Permohonan partisipasi dari UMKM terus mengalir, dan minat peserta fun walk dari kalangan buruh meningkat signifikan. Ini membuktikan bahwa May Day bukan hanya soal protes, tapi juga ruang konsolidasi kekuatan rakyat,” jelas Delandy.
 
Ia menambahkan, May Day Fest dirancang sebagai wadah di mana suara rakyat bisa didengar, dan aspirasi disampaikan langsung kepada pemerintah sebagai bentuk kontrol sosial yang nyata.
 
SINYAL KETIDAKPUASAN YANG MENGUAT
 
Aksi Pra May Day ini menjadi sinyal kuat dan peringatan dini menjelang tanggal 1 Mei. Dinamika di lapangan memperlihatkan bahwa isu ketenagakerjaan, penggusuran, dan ketimpangan sosial kini telah menyatu menjadi satu rangkaian persoalan struktural yang mendesak untuk dicarikan solusi.
 
Dengan menguatnya suara kolektif ini, aksi ini bukan lagi sekadar agenda rutin tahunan, melainkan cerminan nyata meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kebijakan yang dinilai gagal berpihak pada rakyat kecil.
 
R3

0 Komentar