Infokasus.id MENTOK, BANGKA BARAT — Gedung Perpustakaan Daerah Bangka Barat yang biasanya senyap dan hening, Jumat (8/5/2026) berubah menjadi ruang yang hidup, berwarna, dan riuh penuh tawa. Di sana, anak‑anak bergerak dengan semangat: ada yang menumpahkan imajinasi di atas kertas melalui lomba mewarnai tokoh pendidikan, ada pula siswa SD dan SMP yang serius merangkai ide dan kreativitas lewat desain poster digital menggunakan aplikasi Canva. Di sudut lain, gerakan serentak Senam 7 Kaih menyatukan tenaga dan semangat, menjadi simbol kebersamaan dan kesehatan jiwa raga.
Ini bukan sekadar seremonial tahunan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Di balik kegembiraan itu, tersemat gagasan besar dan arah haluan baru pendidikan Bangka Barat: melangkah tegap masuk ke era kemajuan teknologi, namun tak pernah melepaskan akar budi pekerti, karakter, dan nilai kemanusiaan.
Rangkaian kegiatan ini dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bangka Barat, Teni Wahyuni, S.E. Sosok yang menegaskan, bahwa pendidikan masa kini tidak boleh lagi terjebak hanya pada pencapaian nilai akademik semata. Pendidikan harus lebih luas, lebih dalam, dan lebih menyentuh jiwa.
“Kami ingin pendidikan di Bangka Barat tidak hanya melahirkan anak‑anak yang pintar secara otak dan ilmu pengetahuan, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, kaya kreativitas, memiliki rasa percaya diri tinggi, dan berbekal keberanian menatap masa depan,” tegas Teni Wahyuni.
Bagi Teni, gelombang besar kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi serta media sosial telah mengubah peta tantangan pendidikan secara drastis. Generasi muda hari ini lahir dan tumbuh di tengah dunia digital yang bergerak secepat kilat. Jika pendidikan diam di tempat, maka generasi kita akan tertinggal; namun jika kita ikut arus tanpa kendali, jati diri bangsa bisa terkikis habis.
“Anak‑anak kita hidup dan tumbuh di era digital. Tantangannya jelas: mereka tidak boleh sekadar menjadi pengguna teknologi pasif. Mereka harus kita bentuk menjadi pencipta karya, pengolah ide, dan manusia cerdas yang memegang teguh etika, norma, dan budi pekerti. Cakap teknologi wajib ada, tapi karakter dan moral adalah tiang utamanya,” tambahnya tajam.
Prinsip inilah yang kemudian diterjemahkan secara nyata ke dalam seluruh rangkaian kegiatan Hardiknas tahun ini. Untuk jenjang PAUD, lomba mewarnai tokoh pendidikan digelar guna menanamkan benih‑benih kecintaan pada ilmu pengetahuan dan penghormatan terhadap pendidik sejak usia dini. Sementara bagi siswa SD dan SMP, ruang kreativitas digital dibuka lebar lewat lomba desain poster berbasis Canva — mengenalkan mereka pada alat masa depan, namun tetap menuntut isi karya yang sarat pesan positif. Disisipkan juga kegiatan Senam 7 Kaih, sebagai pengingat bahwa tubuh yang sehat adalah wadah bagi pikiran yang cerdas dan jiwa yang tangguh.
Satu hal yang paling menonjol dari gagasan Teni Wahyuni: Pendidikan tidak boleh mematikan kebahagiaan anak.
Di bawah kepemimpinannya, suasana belajar dan bertemu dikonsep agar hangat, akrab, menyenangkan, dan jauh dari kesan kaku atau menakutkan. Anak‑anak diberi kebebasan berekspresi, diberi apresiasi atas setiap karya yang dihasilkan, dan dibangun rasa bangga atas kemampuan diri sendiri. Hal ini tampak jelas saat Teni berkeliling mendekati setiap meja peserta, menyapa ramah anak‑anak PAUD, hingga mengamati dengan teliti dan bangga hasil desain digital karya siswa sekolah dasar dan menengah.
“Saya percaya sepenuhnya: pendidikan sejati adalah yang menghadirkan kebahagiaan, kenyamanan, dan ruang seluas‑luasnya bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka berani tampil, berani berkarya, dan bangga atas apa yang mereka hasilkan, di situlah kita melihat harapan nyata. Potensi anak Bangka Barat sesungguhnya luar biasa besar — tinggal bagaimana kita membuka jalan dan memberi ruang itu,” ungkapnya penuh keyakinan.
Bagi Teni, ukuran keberhasilan pendidikan tidak melulu soal angka atau peringkat. Pendidikan yang berhasil adalah yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian bermimpi, dan optimisme akan masa depan. Ia berharap, peringatan Hardiknas tahun 2026 ini akan terpatri kuat dalam ingatan setiap anak sebagai momen indah, momen yang membakar semangat, dan momen yang meyakinkan mereka: kamu mampu, kamu berharga, dan kamu punya masa depan.
Pilihan lokasi kegiatan yang sengaja dipusatkan di Gedung Perpustakaan Daerah pun bukan kebetulan. Teni Wahyuni ingin merobek pandangan lama yang menganggap perpustakaan hanya tempat sunyi dan membosankan. Ia ingin mengubahnya menjadi ruang publik yang hidup, terbuka, dan menjadi jantung kreativitas anak muda.
“Kami ingin menyisipkan pesan mendasar: belajar itu indah, belajar itu membahagiakan, dan belajar memberi ruang tak terbatas bagi setiap manusia untuk berkembang. Dari gedung inilah saya berharap tumbuh kenangan indah, rasa kebersamaan, semangat belajar yang tak pernah padam, serta mimpi‑mimpi besar yang akan membawa Bangka Barat melesat ke depan,” ujarnya.
Lebih jauh lagi, Teni menegaskan: pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan jalan mulus, gedung megah, atau fasilitas fisik semata. Kemajuan dan kemandirian Bangka Barat di masa depan sepenuhnya ditentukan oleh mutu Sumber Daya Manusia yang lahir dari rahim pendidikan.
Oleh sebab itu, Disdikpora terus berjalan di jalur yang sama: membangun pendidikan yang sehat, kreatif, adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap kokoh berpijak pada karakter, akhlak mulia, dan nilai luhur budaya.
“Bagi kami, pendidikan adalah jalan utama mengubah nasib dan mengangkat derajat bangsa. Maka dari itu, kami berjuang keras agar setiap anak di Bangka Barat, dari ujung selatan hingga utara, memiliki kesempatan yang sama: kesempatan untuk tumbuh, bermimpi, berkarya, dan membawa harum nama daerah ini,” tegasnya.
Di tengah riuh rendah tawa dan kegembiraan anak‑anak yang memenuhi ruang perpustakaan pagi itu, tersimpan satu kebenaran besar dan indah. Bahwa di tangan para pendidik dan pemimpin visioner seperti Teni Wahyuni, masa depan pendidikan Bangka Barat telah diletakkan di jalur yang benar: Melaju cerdas di era teknologi, namun tetap bertekad teguh memanusiakan manusia.
Penulis: Nyimas Yeni Lestari

0 Komentar