Kirab Budaya 2026: DPD RAJAWALI Purwakarta Bangga Warisan Emas Binokasih Kembali Bersinar di Hadapan Masyarakat

Infokasus.id PURWAKARTA, JABAR - Dewan Pimpinan Daerah Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (DPD RAJAWALI) Purwakarta menyampaikan apresiasi mendalam dan dukungan penuh yang sangat tinggi terhadap terselenggaranya Puncak Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026. Gelaran akbar yang menjadikan Kiara Artha Park Kota Bandung sebagai titik tolak dan berakhir megah di halaman Gedung Sate pada Sabtu (16/5) lalu, dinilai sebagai langkah strategis dan luar biasa dalam menjaga, menghidupkan kembali, serta memperkokoh identitas budaya dan sejarah luhur masyarakat Jawa Barat.
 
Dalam keterangan persnya yang disampaikan di Purwakarta, Rabu (20/5/2026), Sekretaris Jenderal DPD RAJAWALI Purwakarta, Edi Tanam Purwana, menegaskan bahwa peristiwa besar ini jauh melampaui sekadar pawai atau pertunjukan budaya semata. Kirab sepanjang 3,5 kilometer yang diikuti ribuan peserta dan dipadati antusiasme warga dari berbagai kalangan, adalah wujud nyata kepedulian pemerintah daerah bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat untuk mendekatkan kembali generasi masa kini pada akar sejarah dan jati diri leluhurnya.
 
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif brilian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menggagas kegiatan agung ini, serta penghargaan setinggi langit bagi seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara tersebut. Menjadikan Kiara Artha Park sebagai titik awal perjalanan budaya ini adalah pilihan yang sangat tepat dan filosofis, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu wajah baru Jawa Barat yang modern namun tetap mampu bersatu dan menyatu erat dengan nilai-nilai tradisi. Kirab ini menjadi bukti otentik bahwa budaya Sunda masih hidup, kokoh, kuat, dan senantiasa dicintai oleh masyarakatnya,” ujar Edi Tanam Purwana dengan nada bangga.
 
Mahkota Binokasih: Warisan Emas Penuh Filosofi Kepemimpinan
 
Lebih jauh, Edi menyoroti momen paling bersejarah dan menjadi pusat perhatian utama dalam kirab tersebut, yaitu saat diaraknya Mahkota Binokasih yang asli — bukan replika — yang dibawa keluar dari Keraton Sumedang Larang hingga hadir mempesona di halaman Gedung Sate. Ia menegaskan, benda pusaka agung ini bukan sekadar benda bersejarah bernilai tinggi secara materi, melainkan sebuah warisan peradaban yang sarat muatan pesan moral dan filosofi kepemimpinan yang sangat relevan, bahkan menjadi tuntunan, bagi seluruh elemen masyarakat termasuk di wilayah Purwakarta dan seluruh penjuru Tatar Sunda.
 
Ditinjau dari sisi sejarah, Mahkota Binokasih merupakan pusaka emas murni peninggalan kejayaan Kerajaan Sunda Pajajaran dengan kadar kemurnian mencapai 18,8 karat. Mahkota ini menyimpan perjalanan sejarah yang panjang, agung, dan sakral. Konon, mahkota ini adalah lambang kedaulatan mutlak dan kekuasaan tertinggi para raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda pada masa keemasan kejayaannya yang berpusat di Pakuan Pajajaran.


Nama “Binokasih” sendiri memiliki makna mendalam: “Pemimpin yang Penuh Kasih Sayang”. Sebuah filosofi utama yang dipegang teguh oleh para leluhur, di mana makna sesungguhnya kekuasaan adalah ketika seorang pemimpin tidak hanya memegang kendali, namun wajib menebarkan keadilan, menjamin kesejahteraan, dan memberikan perlindungan nyata bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya.
 
Setelah jatuhnya Kerajaan Pajajaran, Mahkota Binokasih diselamatkan oleh para pewaris dan diwariskan turun-temurun, hingga akhirnya kini tersimpan dan dijaga dengan sangat ketat dan penuh penghormatan di Karaton Sumedang Larang sebagai perwakilan sah penerus kebesaran Sunda. Kehadirannya dalam kirab kali ini adalah momen langka dan sangat istimewa, di mana benda yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu itu kembali dipertunjukkan untuk mengingatkan kita semua akan betapa kayanya peradaban yang dimiliki oleh tanah Jawa Barat.
 
“Sejarah panjang Mahkota Binokasih ini mengajarkan kita semua, khususnya para pemimpin dan penyelenggara negara di masa kini dan masa depan, bahwa kekuasaan itu sejatinya adalah sebuah amanah suci yang harus dijalankan dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab besar, bukan untuk dimanfaatkan demi keuntungan pribadi atau golongan. Nilai inilah yang ingin kami tekankan kembali ke permukaan, selain rasa bangga yang meluap-luap atas warisan budaya kita. Bahwa menjadi bagian dari Tatar Sunda berarti mewarisi sifat sopan santun yang luhur, menjunjung tinggi kebenaran, dan senantiasa menjaga kehormatan diri maupun bangsa,” jelas Edi menegaskan makna di balik pusaka tersebut.
 
Simbol Persatuan dan Harapan Pelestarian Budaya
 
DPD RAJAWALI Purwakarta juga memberikan pujian tinggi atas langkah tegas Gubernur Dedi Mulyadi yang memastikan dan menegaskan keaslian mahkota tersebut hadir di tengah masyarakat, serta kehadiran 27 kepala daerah se-Jawa Barat yang ikut serta dalam prosesi sakral tersebut. Hal ini dinilai sebagai simbol persatuan mutlak dan kesatuan hati seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat, berjalan beriringan di bawah satu payung budaya yang sama.
 
“Kirab budaya yang megah ini juga secara otomatis menjadi daya tarik luar biasa bagi dunia pariwisata sekaligus ruang edukasi sejarah yang hidup bagi generasi muda. Kami berharap kegiatan serupa terus digalakkan dan menjadi agenda rutin, serta nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Mahkota Binokasih senantiasa menjadi pedoman hidup kita bersama sehari-hari. Khususnya di Purwakarta, kami akan terus berdiri di barisan terdepan mendukung setiap upaya pelestarian budaya, agar warisan leluhur yang berharga ini tetap abadi, bersinar, dan menjadi kebanggaan generasi mendatang,” tutup Edi Tanam Purwana mengakhiri pernyataannya yang penuh semangat.
 
 
 
Publisher : TIM/RED
Penulis : TIM RAJAWALI


0 Komentar