SLOGAN TANPA TUNGGU, KENYAATAN BERTAHAN TUNGGU: JEMBATAN CENDRANA RUSAK PARAH DIBIARKAN, JANJI PEMERINTAH HANYA MANIS DI MULUT

Infokasus.id SOPPENG 10 MEI 2026 - Di masa kampanye, program unggulan “Tanpa Tunggu” digembar‑gemborkan sebagai bukti kerja cepat, tanggap, dan berpihak pada rakyat.Dijanjikan: masalah selesai seketika, keluhan ditangani tanpa berbelit, kebutuhan publik dipenuhi tanpa penundaan. Namun kenyataan pahit kini terbentang nyata di hadapan mata masyarakat Kabupaten Soppeng: di Jembatan Cendrana, janji itu ternyata hanya menjadi slogan kosong, manis diucapkan, namun mati dan hilang saat amanah sudah digenggam.
 
Sudah berbulan‑bulan bahkan hampir satu tahun kerusakan Jembatan Cendrana dibiarkan terkatung‑katung tanpa sentuhan perbaikan apa pun. Minggu (10/5/2026), pantauan langsung di lokasi memperlihatkan pemandangan mengerikan dan memprihatinkan: lantai jembatan dari kayu sudah lapuk dimakan waktu, banyak bagian bolong dan rapuh siap runtuh, pagar pembatas patah dan hilang, struktur penopang mulai miring dan rusak parah. Kondisinya nyaris runtuh, sangat berbahaya, dan sama sekali tak layak dilewati manusia maupun kendaraan.
 
Padahal, jembatan ini adalah satu‑satunya urat nadi penghubung utama. Ribuan warga dari wilayah Matoangin, Endrekeng, hingga Labokong yang hendak ke pusat kota Soppeng, kini terpaksa memutar jalan jauh berkelok, menghabiskan waktu berjam‑jam, membengkakkan biaya angkutan, dan menyulitkan segala urusan. Sebaliknya, warga Cendrena yang ingin bergerak ke Labokkom juga harus menempuh rute jauh berputar hanya demi menghindari jembatan yang berpotensi memakan korban itu.
 
"Kami sudah berharap besar pada program Tanpa Tunggu. Katanya segala masalah langsung ditangani, tak perlu menunggu lama. Tapi kenyataannya? Kami menunggu bertahun‑tahun, jembatan tetap rusak, tetap dibiarkan, tak ada tanda perbaikan sedikit pun. Ini namanya penipuan janji! Ekonomi kami macet, biaya hidup naik, waktu terbuang sia‑sia. Kami minta pemerintah jangan hanya pandai bicara saat butuh suara, tapi lupa saat rakyat butuh pertolongan," ujar salah satu warga dengan nada kecewa dan marah membara.
 
Ketua LSM LPKN Kabupaten Soppeng, Alfred Surya Putra Panduu, yang meninjau langsung lokasi dan mendengar keluhan warga, melontarkan kritik tajam dan keras. Baginya, pembiaran ini bukan sekadar kelalaian kerja, melainkan bukti nyata ketidakpedulian dan pengkhianatan terhadap amanah rakyat.
 
"Jembatan Cendrena ini adalah jantung lalu lintas ekonomi rakyat. Kalau jantungnya rusak dan diputus, maka mati pula kehidupan ekonomi ribuan warga. Saya minta tegas kepada Bupati Soppeng dan Kepala Dinas PUPR: bangunkan kesadaran dan tanggung jawab kalian! Jangan menunggu ada orang jatuh, ada korban tewas, ada darah yang tumpah, baru kalian bergerak. Saat itu nanti, semuanya sudah terlambat dan tak bisa dimaafkan," serang Alfred dengan nada geram.
 
Ia menyoroti ironi paling tajam: Program bernama Tanpa Tunggu, tapi rakyatnya dipaksa menunggu bertahun‑tahun. Program yang dijual sebagai solusi cepat, nyatanya justru menjadi bukti kelambatan dan ketidakpedulian.
 
"Kalau begini buktinya, lebih baik hapus saja nama program itu. Jangan bikin rakyat sakit hati mendengarnya. Nama besar, janji manis, tapi kenyataannya fasilitas vital rusak parah dibiarkan terbengkalai. Ini sangat memalukan dan mencoreng nama baik pemerintahan," tegasnya.
 
Hingga berita ini diturunkan, sama sekali belum ada tanggapan, penjelasan, atau rencana tindakan dari Pemerintah Kabupaten Soppeng maupun jajaran Dinas PUPR. Pemerintah seolah menutup mata, menyumbat telinga, dan tak peduli dengan jeritan hati masyarakat yang bergema keras.
 
Warga pun berharap: semoga janji kampanye yang dulu diserukan dengan penuh semangat itu tidak hanya menjadi sampah sejarah. Masyarakat menagih janji, menuntut bukti, dan mendesak perbaikan segera. Jangan sampai "Tanpa Tunggu" hanya menjadi dongeng, sementara rakyat dipaksa menunggu sampai kapan pun tanpa kepastian.

Redaksi

0 Komentar