Infokasus.id, Jakarta, 22 Juni 2026 – Kerugian negara menembus angka mencengangkan: lebih dari Rp16.000 trilyun setiap tahun, terakumulasi menjadi puluhan ribu trilyun rupiah selama enam dasawarsa. Kebocoran raksasa ini terjadi sistematis lewat praktik under‑invoicing, undercounting, dan penyeludupan terstruktur dalam jalur ekspor‑impor didukung data perbandingan statistik perdagangan PBB serta temuan investigasi yang diklaim digarap Presiden Prabowo Subianto bersama tim senyap.
Hal ini diungkapkan secara tegas dalam pernyataan keras Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH. Pakar Hukum Internasional, Ekonom Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (Association Of Young Indonesian Advocate / PAMID), Pengasuh Ponpes ASS‑SAQWA PLUS — saat menjawab puluhan pemimpin redaksi media dalam‑luar negeri melalui sambungan telepon seluler dari kantor Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, Komplek Kopasus Cijantung Jakarta Timur, 20 Juni 2026.
“Bapak Presiden Haji Prabowo Subianto, saya harap segera tutup kebocoran akibat gigitan tikus berdasi yang merajai jaringan eksportir‑importir, dalam maupun luar negeri. Sangat mendesak dibentuk lembaga khusus berwenang penuh: audit silang, lacik aliran dana, potong mata rantai kolusi lintas instansi,” serunya lugas.
Modus Terbuka: 15.000 Ton Terkirim, Cuma 5.000 Ton Masuk Catatan Luar Negeri
Prof. Nasomal mengangkat bukti nyata yang tak terbantahkan: pengiriman 15.000 ton batu bara tercatat resmi di pelabuhan Indonesia, namun dokumen negara penerima hanya mencatat masuk 5.000 ton. Selisih lebih 50% lenyap, nilainya dikantongi kelompok oknum, kekayaan alam Indonesia lari memperkaya negeri orang. Pola sama berulang pada biji besi, nikel, timah, bauksit, kayu, hingga emas komoditas andalan yang justru menjadi ladang pencurian terorganisir puluhan tahun lamanya.
“Mulai petugas pelabuhan, bea cukai, Kemendag, Deplu, Ditjen Pajak, hingga lingkaran oligarki bergandengan erat. Selama 60 tahun tak ada yang berani bongkar; oknum makin kaya raya, jabatan makin tinggi, rekening‑gendut menumpuk di Singapura, Eropa, dan negara lain,” tegasnya.
Hutang Menumpuk, Pajak Naik: Rakyat Bayar Kerugian Oknum
Akibat kebocoran masif ini, dampaknya jatuh langsung ke pundak 280 juta rakyat Indonesia: utang negara membengkak, beragam jenis pajak terus dinaikkan tahun berganti tahun, harga kebutuhan pokok melambung tak teratur, beban hidup makin berat tanpa ujung. Profesor ini melontarkan fakta perbandingan yang menyayat sekaligus menggugah:
“Seandainya kekayaan alam ini dikelola tangan jujur, setiap warga bisa digaji Rp 20 juta sebulan tanpa perlu bantuan kerja dari pemerintah. Tapi tikus berdasi rampok habis‑habis, sementara kasus besar ini abadi tak tersentuh hukum.”
Ia melempar pertanyaan tajam yang wajib dijawab pemerintah saat ini: Siapa nama‑nama oknum jaringan itu? Di jabatan mana mereka bersembunyi? Mengapa aman puluhan tahun?
Desakan Konkret: Awasi Tanpa Tebang Pilih, Sita Semua Aset Hasil Curian
Peringatan keras yang disampaikan bukan sekadar kritik, melainkan rencana penanganan tegas:
Perintahkan aparat penegak hukum menyisir total alur ekspor‑impor: dari pencatatan muatan, pungutan, hingga pejabat pembuat kebijakan yang terlibat;
Bentuk lembaga independen khusus: berwenang audit silang data resmi dengan mitra dagang dunia, akses rekening luar negeri, penindakan cepat tanpa hambatan birokrasi;
Buka data publik akumulasi kerugian 60 tahun, sebut nama pelaku terbukti, sita seluruh aset di dalam maupun luar negeri.
“Negara tak boleh lagi jadi sasaran rampokan resmi. Hari ini diam saja, besok kerugian makin menenggelamkan utang, dan rakyat terus dipaksa bayar dosa tikus berdasi,” tutup Prof. Nasomal.
Hingga berita diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Istana Kepresidenan maupun instansi terkait. Redaksi tetap menjunjung asas praduga tak bersalah namun mendesak jawaban nyata demi kepentingan nasional dan masa depan kekayaan alam Indonesia.
Penulis: TIM REDAKSI BERITA INVESTIGASI & KEBIJAKAN
Narasumber: Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal SH MH – Pakar Hukum Internasional, Ekonom Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum PAMID, Pengasuh Ponpes ASS‑SAQWA PLUS
Sumber: Pernyataan langsung 20 Juni 2026, rujukan statistik PBB, konteks investigasi tim Presiden Prabowo
Lokasi Liputan: Jakarta Timur
Waktu Rilis: Senin 22 Juni 2026
#KebocoranEksporImpor #Rp16000TrilyunHilang #LembagaKhususAntiKorupsi #ProfSutanNasomal #SelamatkanKekayaanAlam #TikusBerdasiDitindak #HutangNegaraBebanRakyat

0 Komentar