INDONESIA NEGERI TERKAYA, MENGAPA DAERAH PENYUMBANG KEKAYAAN TETAP MISKIN? PAKAR: HARAPAN PERUBAHAN PADA KEBIJAKAN PRABOWO

Infokasus.id Jakarta , 28 JUNI 2026 - Indonesia seolah tak akan habis kekayaannya namun pertanyaan besar tetap menggema: ke mana mengalir manfaatnya?
 
Dalam pernyataan kepada media, Prof. DR. KH Sutan Nasomal, SH., MH. Pakar Hukum Pidana Internasional & Ekonom Nasional  menegaskan:
 
“Kami yakin arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto berpihak pada negara dan bangsa. Dukungan diberikan, namun rakyat berhak mengawasi dan bersuara jika ada yang menyimpang.”
 
FAKTA TEGAS DI BALIK EKSPLOITASI
 
Batu bara, nikel, bauksit, logam mulia diekspor jutaan ton tiap tahun — menguntungkan kas negara dan mitra usaha
369.356 hektare hutan hilang akibat tambang; 30 tahun terakhir jutaan hektare musnah
Hutan yang dulu menjamin hidup dan panen kini gundul, gersang, berdebu
Jalan tanah, listrik belum merata  sementara kekayaan terus diangkut keluar
Utang negara mendekati 10.000 triliun, padahal hasil penjualan SDA bertriliun‑an sejak puluhan tahun lalu
 
“Apakah warga asli ikut makmur? Atau makin tertinggal? Apakah hutan dan air dipulihkan setelah digali habis? Ini pertanyaan tak terjawab sampai kini,” tegas Prof. Sutan Nasomal.
 
KUNCI: KETERBUKAAN & PERUBAHAN SISTEM
 
Selama 81 tahun merdeka dan 8 kali pemilu, pola lama masih terasa: kekayaan mengalir keluar, daerah tetap tertinggal.
 
Pakar ini berharap Presiden Prabowo akan memperbaiki sistem yang keliru, membuka ruang suara rakyat, dan memastikan: setiap butir kekayaan bumi Indonesia kembali memberi manfaat bagi masyarakat setempat bukan hanya segelintir pihak.

Narasumber: Prof. DR. KH Sutan Nasomal, SH., MH  Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, Pengasuh Ponpes ASS‑SAQWA PLUS
 
TIM REDAKSI
#KekayaanBukanHanyaUntukKelompok #PulihkanDaerahPenambang #SuaraRakyatHarusDidengar #PerubahanSistemSDANow
 
 
 


0 Komentar