⚡ Breaking LIVE

PULUHAN PONTON SELAM DI TEMPILANG: SIAPA MENJAGA LAUT DAN RUANG HIDUP NELAYAN?

Ditulis dan disunting oleh Tim Redaksi InfoKasus.id · Standar Editorial
📋 Daftar Isi

    Oleh: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

    INFOKASUS.ID MENTOK, BANGKA BARAT , 19 September 2026 - Laut Air Lintang, Kecamatan Tempilang, bukan sekadar hamparan air. Ia adalah ruang hidup, warisan, dan meja makan bagi nelayan yang telah bergantung padanya turun-temurun. Kini, wajah perairan itu berubah: puluhan ponton selam beroperasi di kawasan yang sama tempat warga mencari rebon, menangkap ikan, dan menjaga kehidupan.

     
    "TEMPAT REBON RUSAK, SUNGKUR MAU DIBWA KE MANA?"
     
    Bagi Ali (56), nelayan Air Lintang, sungkur bukan sekadar alat. Ia adalah pengetahuan hidup  diwarisi, diasah, dan dijalani puluhan tahun: membaca pasang, mengenali lumpur, memahami pergerakan air, tahu di mana biota berkumpul.
     
    "Kalau tempat rebonnya rusak, sungkur mau dibawa ke mana?"
     
    Pertanyaan sederhana ini menyimpan persoalan besar. Jika dasar laut berubah, bukan hanya hasil tangkapan yang hilang. Hilang pula ruang tempat pengetahuan leluhur dipraktikkan dan diwariskan.
     
    PONTON BERTAMBAH, RUANG HIDUP MENYUSUT
     
    Jumlah ponton disebut mencapai puluhan unit. Angka ini masih menunggu verifikasi resmi instansi - namun kekhawatiran nelayan adalah kenyataan yang tidak bisa ditunda.
     
    "Kami nelayan kecil tidak punya mesin besar, tidak punya modal besar. Hanya mengandalkan laut dan alat sederhana. Kalau tempat kami mencari rebon terganggu, kami yang paling dulu merasakan akibatnya," tegas Ali.
     
    Kerusakan tidak selalu tampak seketika. Sedimentasi yang berubah, aliran air yang bergeser, habitat yang perlahan hilang - semua itu menyusup pelan, lalu terasa di piring makan keluarga nelayan: hasil tangkapan menurun, penghasilan menyusut, kebutuhan sekolah dan pangan terancam.

    SATU PONTON MUNGKIN TERBATAS - PULUHAN PONTON DAMPAKNYA MENUMPUK
     
    Satu kegiatan mungkin dampaknya terbatas. Puluhan ponton beroperasi di kawasan yang sama? Tekanan terhadap ekosistem menjadi sesuatu yang berbeda , kumulatif, luas, dan menelan ruang kehidupan.
     
    Mangrove bukan sekadar pohon. Ia tempat hidup biota, penahan abrasi, penjaga keseimbangan pesisir. Ketika aktivitas tambang mengganggunya, yang terancam bukan hanya pepohonan melainkan rantai kehidupan yang menopang mata pencaharian nelayan.
     
    SIAPA YANG BENAR-BENAR MENJALANKAN INI?
     

    Di permukaan, yang terlihat pekerja di atas ponton. Namun rantai ekonomi jauh lebih panjang dan tersembunyi:


    - Siapa pemilik ponton?
    - Siapa pemodalnya?
    - Ke mana hasil tambang dibawa?
    - Apakah izin dan persetujuan lingkungan sah dan sesuai tata ruang?
     
    Pengawasan tidak boleh berhenti pada yang terlihat di permukaan. Yang mengendalikan dari balik layar pun harus dipertanggungjawabkan.
     
    REGULASI ADA - TAPI DI LAPANGAN SIAPA YANG BERJALAN?
     
    Aturan tentang tata ruang, lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya sudah tertulis. Namun perlindungan hanya bermakna jika dijalankan. Pemeriksaan harus tegas mencakup:
    Status legalitas dan kesesuaian lokasi
    Analisis dampak lingkungan dan pemantauan nyata di lapangan
    Perubahan dasar perairan, sedimentasi, dan kondisi mangrove
    Dampak terhadap wilayah tangkap dan mata pencaharian nelayan
     
    Jika legal , masyarakat berhak tahu dasar dan pengawasannya. Jika melanggar , penegakan hukum tak boleh menunda. Jika rusak , pemulihan harus nyata, bukan sekadar penanaman bibit tanpa menghentikan sumber kerusakan.
     
    NILAI YANG TIDAK BISA DIHITUNG DENGAN TIMBANGAN
     
    Logam timah dapat ditimbang, dihitung rupiahnya. Tapi bagaimana menghitung:
     
    - Rebon yang tak lagi ditemukan?
    - Pengetahuan yang tak bisa diwariskan anak cucu?
    - Pekerjaan yang hilang bersama berubahnya laut?
     
    "Jangan sampai nanti anak-anak kami cuma tahu sungkur dari cerita," ucap Ali.
     
    Kerusakan ekologis bukan soal lingkungan semata. Ia soal sosial, budaya, keadilan. Ketika ruang hidup diambil, yang hilang bukan sekadar penghasilan  melainkan masa depan sebuah cara hidup.
     
    BUKAN MENOLAK PEMBANGUNAN, TAPI MEMINTA RUANG UNTUK HIDUP
     
    "Kami bukan tidak mau ada pembangunan. Tapi jangan sampai tempat kami mencari makan rusak."
     
    Persoalan akhirnya sederhana: bagaimana pembangunan dan pemanfaatan alam dapat berjalan tanpa menelan ruang hidup mereka yang paling bergantung padanya?
     
    Pemerintah dan aparat berwenang diminta menjawab: memeriksa, memastikan, melindungi, memulihkan. Bagi nelayan Air Lintang, jawabannya tidak bisa menunggu. Karena ketika laut kehilangan rebon, sungkur tidak sekadar berhenti berfungsi  ia kehilangan masa depan.
     
     
    Nyimas

    Ditulis oleh INFO KASUS

    Tim redaksi InfoKasus.id menyajikan berita hukum, kriminal, politik dan sosial secara aktual dan berimbang. Baca Pedoman Media Siber kami ›

    Komentar

    Posting Komentar

    Home Populer
    Kategori Berita
    Hukum Kriminal Politik Ekonomi Sosial Daerah Nasional