INFOKASUS.ID SUNGAILIAT, BANGKA ,11 SEPTEMBER 2026 - Persoalan lingkungan di Bangka Belitung tidak bisa diselesaikan secara terpisah. Kerusakan lahan bekas tambang menumpuk bersamaan dengan tumpukan sampah yang belum tertata. Menjawab kerumitan ganda ini, Institut Pahlawan 12 menggelar diskusi strategis bertema “Tata Kelola Kolaboratif Pengelolaan Sampah Berkelanjutan pada Masyarakat Pascatambang Timah” di GrhaPhala, Sungailiat, Kamis (10/9/2026). Kegiatan ini bukan sekadar seminar , melainkan upaya merumuskan kerangka kerja nyata berbasis penelitian.
Masalah yang Saling Mengikat: Sampah & Bekas Tambang
Dr. Ferdiana, S.I.Kom., M.I.Kom., pemantik sekaligus peneliti, menegaskan bahwa keterkaitan kedua masalah ini membuat penanganannya semakin kompleks:
"Pengelolaan sampah berkelanjutan bukan sekadar soal teknis pengangkutan. Ia menuntut perubahan perilaku, penguatan kelembagaan, dan kolaborasi sejati antara pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, dunia usaha, hingga generasi muda. Tanpa sinergi lintas sektor, solusi apa pun tidak akan bertahan lama," tegasnya.
Para peserta sepakat: sampah bukan lagi beban yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang bernilai ekonomi jika dikelola tepat. Kuncinya,dimulai dari pengurangan di sumber , pemilahan di rumah tangga, sekolah, dan lingkungan.
Tiga Pandangan, Satu Tujuan: Langkah Nyata Harus Dimulai Sekarang
Narasumber lintas sektor menyampaikan pandangan yang saling menguatkan:
Vegi Fera Lusianti, ST. - Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kabupaten Bangka:
"Pemerintah menyusun kebijakan dan menyediakan sarana. Namun perubahan perilaku masyarakat adalah kunci utama. Fasilitas selengkap apa pun tidak akan berfungsi jika kesadaran warga tidak tumbuh."
Muhammad Arinda Unigraha Utama - Ketua Umum BECAK BABEL:
"Solusi paling tahan lama lahir dari masyarakat sendiri. Kreativitas dan inovasi warga adalah kekuatan yang harus didorong, bukan digantikan dari luar."
Dr. Widya Handini, M.Sc. - Akademisi Tata Kelola Persampahan Institut Pahlawan 12:
"Kita harus beralih ke ekonomi sirkular: kurangi, gunakan kembali, beri nilai tambah. Sampah organik jadi pupuk, limbah diberi manfaat bukan dibuang ke lahan yang sudah rusak."
Pascatambang Tak Bisa Dipisahkan dari Pengelolaan Sampah
Poin paling mendasar yang disepakati: kebijakan pemulihan wilayah pascatambang harus menyatu dengan sistem pengelolaan sampah. Pemulihan lingkungan, penghidupan masyarakat, dan pengelolaan limbah adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan dalam perencanaan pembangunan daerah.
Rekomendasi tegas yang dihasilkan:
Penguatan kepemimpinan dan kelembagaan pengelolaan sampah
Pembagian peran yang jelas dan tidak tumpang tindih antar-pemangku kepentingan
Peningkatan partisipasi aktif masyarakat sejak tingkat paling bawah
Dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten dan berkelanjutan
Penerapan teknologi dan inovasi yang sesuai dengan kondisi lokal
Penutup: Riset yang Menjadi Solusi Nyata
Institut Pahlawan 12 menegaskan bahwa diskusi ini bukan berakhir di catatan acara. Model tata kelola kolaboratif yang dirumuskan akan diserahkan sebagai masukan resmi bagi pemerintah daerah dan masyarakat agar setiap langkah pemulihan lingkungan di Bangka Belitung benar-benar terencana, terpadu, dan bermanfaat jangka panjang.
Bangka Belitung tidak pulih dengan satu kebijakan atau satu pihak. Ia pulih jika kita semua bergerak bersama.
Institut Pahlawan 12 Riset yang Menjawab Kebutuhan Nyata Masyarakat!
Redaksi
(11 September 2026)
Home
› Artikel
Tidak Cukup Angkut dan Buang - Institut Pahlawan 12 Tegaskan Sampah & Pemulihan Pascatambang Harus Dikelola Secara Terpadu!
Ditulis dan disunting oleh Tim Redaksi InfoKasus.id · Standar Editorial
📋 Daftar Isi
Ditulis oleh
INFO KASUS
Tim redaksi InfoKasus.id menyajikan berita hukum, kriminal, politik dan sosial secara aktual dan berimbang. Baca Pedoman Media Siber kami ›

Komentar
Posting Komentar