INFOKASUS.ID SUNGAILIAT - Kejuaraan Nasional Pencak Silat Satria Muda Indonesia yang digelar di Bumi Perkemahan Cibubur pada 14‑18 Oktober 2026 menjadi panggung perkenalan besar bagi pesilat muda dari berbagai pelosok negeri. Di antara para petarung itu, tiga santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Islamic Centre Sungailiat yakni Najwa Olivia, Zahid Albar, dan Ahza Nufail tampil mewakili Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, membawa harapan dan semangat bumi Sedulang Setudung ke gelanggang nasional.
Gelanggang Cibubur bergemuruh oleh ketegangan pertandingan, deru napas para petarung, dan sorak‑sorai pendukung dari seluruh penjuru Indonesia. Di tengah panggung yang mengumpulkan pesilat terbaik bangsa, tiga ksatria muda asal Bangka Belitung melangkah maju menuju matras pertandingan.
Najwa Olivia menjadi utusan pertama yang menjajal kerasnya persaingan tingkat nasional. Dengan tatapan tajam dan kuda‑kuda yang kokoh, ia meladeni serangan demi serangan dengan kelincahan yang luar biasa. Namun persaingan nasional menuntut pengalaman dan taktik yang lebih matang; di detik‑detik terakhir babak penyisihan, Najwa harus mengakui keunggulan poin lawan. Ia meninggalkan gelanggang bukan dengan kepala tertunduk, melainkan dada membusung sebagai tanda telah memberikan perlawanan maksimal.
Tak berselang lama, giliran Zahid Albar menghentak arena dengan gaya bertarung agresif dan bertenaga. Pertandingan penuh jual‑beli pukulan dan tendangan membuat penonton menahan napas. Meski terus merangsek maju meski tenaga terkuras habis, sebuah bantingan telak dari lawan di penghujung waktu menutup peluangnya melaju ke babak selanjutnya. Kekecewaan tampak di wajahnya, namun sekaligus menyalakan tekad untuk berlatih lebih keras ke depannya.
Perjuangan pamungkas kemudian bersandar pada Ahza Nufail. Berbekal ketenangan dan teknik yang rapi, ia berusaha mengendalikan ritme pertandingan. Matras biru menjadi saksi bagaimana ia jatuh lalu bangkit kembali, menangkis setiap gempuran dengan determinasi tinggi. Meski telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaik hingga bunyi gong terakhir menggema, papan skor berpihak pada sang rival, sehingga perjalanan Ahza pun terhenti di babak awal.
Ketiga utusan kebanggaan ini harus berhenti di babak penyisihan, tanpa medali maupun kemenangan di podium juara pada kejuaraan kali ini. Namun kejuaraan nasional ini telah memberikan pelajaran yang jauh lebih berharga: tentang ketangguhan mental, keberanian menghadapi tantangan, dan jiwa pesilat yang pantang patah arang.
Ustadz King Haman ST, pembina tim pencak silat Bahrul Ulum Islamic Centre Sungailiat, menyampaikan apresiasi tulus atas perjuangan para santrinya. “Mereka membawa pulang pengalaman yang berharga. Inilah yang akan menempa mereka menjadi pedang yang lebih tajam untuk gelanggang ke depannya,” ujarnya.
Najwa, Zahid, dan Ahza mungkin pulang tanpa piala, namun mereka membawa pulang pengalaman bertanding di tingkat nasional dan kesempatan mengukur kemampuan diri dengan pesilat‑pesilat terbaik dari seluruh Indonesia. Kekalahan hari ini bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari latihan yang lebih keras, tekad yang lebih kuat, dan persiapan yang lebih matang untuk kejuaraan mendatang.
“Bangga kami kepada kalian, ksatria muda Babel. Langkah kalian ke Cibubur sudah membuktikan bahwa anak‑anak Bangka Belitung mampu tampil di panggung bangsa. Medali akan datang pada waktu yang tepat, tetapi hari ini, kalian telah memenangkan pelajaran terpenting: bahwa juara sejati adalah mereka yang tak pernah berhenti berjuang,” tutup pembina tim.
Nyimas
Home
› Artikel
Tanpa Medali di Cibubur, Tiga Pesilat Muda Babel Bawa Pulang Pengalaman Kejuaraan Nasional Satria Muda Indonesia
Ditulis dan disunting oleh Tim Redaksi InfoKasus.id · Standar Editorial
📋 Daftar Isi
Ditulis oleh
INFO KASUS
Tim redaksi InfoKasus.id menyajikan berita hukum, kriminal, politik dan sosial secara aktual dan berimbang. Baca Pedoman Media Siber kami ›

Komentar
Posting Komentar